Friday, April 22, 2011

PERUBAHAN SOSIAL

A.      Pengertian Perubahan
Masyarakat merupakan suatu populasi yang membentuk organisasi social bersifat kompleks. Dalam organisasi social terdapat nilai-nilai, norma-norma dan pranata-pranata social. Dalam organisasi social terdapat pula peraturan-peraturan untuk bertingkah laku yang kesemuanya berinteraksi dalam kehidupan masyarakat.
Meskipun norma, nilai, pranata, dan  peraturan dimiliki oleh setiap kelompok masyarakat dengan tingkat peradaban berbeda,dapat dipastikan tidak akan pernah semua anggotanya mengetahui sekaligus menyetujuinya. Tidak mungkin semua orang akan begitu saja berperilaku sesuai dengan nilai, norma, ataupun peraturan yang berlaku.Kenyataan inilah yang menyebabkan ketidakselarasan atau konflik di tengah-tengah masyarakat.Hakikat manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam banyak hal akan mendatangkan ketidakselarasan apabila tidak diatur dan diarahkan sebagaimana mestinya.
Masyarakat pasti berubah. Setiap masyarakat   di manapun pasti akan mengalami perubahan dan dinamika sosial budaya, baik di desa maupun di perkotaan. Perubahan dan dinamika itu merupakan akibat dari adanya interaksi antarmanusia dan antarkelompok.Akibatnya,di antara mereka terjadi proses saling mempengaruhi yang menyebabkan perubahan dan dinamika sosial.
Perubahan sosial tidak bisa kita elakkan. Apalagi di zaman yang terbuka ini, kemajuan teknologi yang amat pesat telah membawa berbagai macam pengaruh baik dari dalam maupun dari luar.Semua pengaruh itu begitu mudah hadir di tengah-tengah kita.Lambat laun tanpa disadari kita telah mengadopsi nilai-nilai baru tersebut.
Perubahan dan dinamika yang terjadi di masyarakat bisa berupa perubahan nilai-nilai sosial,norma-norma yang berlaku di masyarakat,pola-pola perilaku individu dan organisasi,susunan lembaga kemasyarakatan ,lapisan-lapisan maupun kelas-kelas dalam masyarakat,kekuasaan, wewenang, interaksi sosial, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain, perubahan sosial bisa meliputi perubahan organisasi sosial, status, lembaga, dan struktur sosial masyarakat.
Pengertian perubahan sosial. William F.Ogburn mengemukakan ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupunyang immaterial.Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktkr dan fungsi masyarakat.Mac Iver mengartikan bahwa perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial (social relationship) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.
Berikut pengertian perubahan sosial yang lain menurut para sosiolog:

  • Hans Garth & Wright Mills
Perubahan sosial adalah apapun yang terjadi (kemunculan perkembangannya, dan kemunduran), dalam kurun waktu tertentu terhadap peran, lembaga, atau tatanan yang meliputi struktur sosial.

  • Gillin &Gillin
Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis,kebudayaan material, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

  • Samuel Koenig
Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

  • D. Selo Soemardjan
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan-perubahan dan dinamika sosial budaya tidak selalu berarti kemajuan, tetapi dapat pula berarti kemunduran dalam bidang-bidang kehidupan tertentu. Meskipun demikian, perubahan sosial merupakan topik yang menarik. Alasannya, perubahan sosial menyangkut segala macam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok masyarakat.


B.        Teori-Teori Perubahan dan Dinamika Sosial  Budaya
Terjadinya perubahan-perubahan sosial dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan akan terus berlangsung sepanjang manusia saling berinteraksi dan bersosialisasi. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan unsur-unsur dalam kehidupan masyarakat baik yang bersifat materil maupun immaterial sebagai cara untuk menjaga keseimbangan masyarakat dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Seperti misalnya unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis atau kebudayaan
Teori penyebab perubahan sosial. Beberapa sosiolog berpendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Kondisi yang dimaksud antara lain: kondisi-kondisi ekonomis, teknologis, geografis, ataupun biologi. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspek kehidupan sosial lainnya. Beberapa teori yang menjalaskan sebab-sebab mengapa terjadi perubahan sosial antara lain sebagai berikut.
a.      Teori evolusi
teori ini berpijak pada teori evolusi Darwin dan di pengaruhi oleh pemikiran Herbert Spencer. Tokoh yang berpengaruh pada teori ini adalah Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies. Durkheim berpendapat perubahan karena evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan degnan kerja. Sedangkan tonnies memandang bahwa masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif menjadi tipe masyarakat yang terspesialisasi dan impersonal. Tonnies yakin bahwa perubahan-perubahan tersebut selalu membawa kemajuan. Bahkan dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam masyarakat), individu manjadi terasing dan lemahnya ikatan sosial sebagai akibaat langsung dari perubahan sosial budaya kea rah individualime dan pencarian kekuasaan. Gejalal itu tampak jelas pada masyarakat perkotaan.
b.  Teori konflik
menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perugahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan bahwa konflik sosial merupakan sumber yang paling dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. Ia yakin bahwa konflik dan pertentangan selalua ada dalam bagian masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik, yaitu konflik sosial dan perubahan sosial. Selalu melekat dalam struktur masyarakat.
c.   Teori fungsionalis
Teori ini berusaha melacak penyebab perubahan sosial sampai ketidakpuasan masyarakat akan kondisi sosialnya yang secara pribadi mempengaruhi mereka, teri ini berhasil menjelaskan perubahan sosial yang tingkatnya moderat.
Konsep kejutan budaya (cultural lag) dari Wiliam Ogburn berusaha manjelaskan perubahan sosial dalam rangka fungsionalis ini. Menurutnya, meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah degnan sangat cepat terutama sementara unsure lainnya tidak secepat itu sehingga tertinggal di belakang. Ketertinggalan itu menjadikan kesenjangan sosial dan budfaya antar unsure-unsur yang berubah sangat cepat dan unsur yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada masyarakat.
Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan nonmaterial seperti kepercayaan, norma, nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu dia berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku yang baru, meskipun terjadi dengan nilai-nilai tradisional
d.  Teori siklis
teori ini mempunyai perspektif (sudut pandang) yang menarik dalam melihat perubahan sosial. Teori ini beranggapan bahwa perubahan sosial tidak dapat dikendaliakan sepenihnya oleh siapapun, bahakan orang ahli sekalipun. Dalam setiap masyarakat terdapat siklus yang harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban (budaya) tidak dapat dielakkan, dan tidak selamanya perubahan sosial itu membawa kebaikan.



C.       Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial
Dengan melihat teori-teori tentang perubahan sosial yang dikemukakan di atas, dapat diketahui fakor-faktor penyebeb terjadinya perubahan sosial. Soekanto mengelompokkan factor-faktor tersebut ke dalam dua golongan besar yaitu faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (faktor internal) dan factor yang beasal dari luar masyarakat itu sendiri (factor eksternal).
1.       Faktor internal
·         Bertambahnya atau berkurangnya penduduk
·         Adanya penemuan baru
·         Konflik masyarakat
·         Terjadinya pemberontakan
·         Ideology
2.      Fakor eksternal
·         Lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia
·         Peperangan
·         Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
D.       Konsekuensi Perubahan
1.        Efek Sosial Penemuan dan Invensi
Tidak ada satu pun perubahan sosial yang tidak menimbulkan akibat terhadap kebudayaan setempat. Bahkan inovasi tambahan pun dapat mempengaruhi unsur-unsur budaya lainnya. Beberapa inovasi menimbulkan dampak yang merusak. Ketika orang Eropa memberikan kampak baja kepada suku Yir Yoront, Australia, pemberian itu tampaknya tidak merusak, tetapi  karena penggunaan kampak batu sudah begitu menyatu dengan kebudayaan setempat, timbullah kerapuhan beruntun pada struktur sosial masyarakat (Sharp, 1952). Kampak baru merupakan simbol kedewasaan pria. Kampak batu itu dapat dipinjamkan kepada wanita dan anak remaja, dan kebiasaan pinjam-meminjam itu merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat penting dalam organisasi sosial suku Yir Yoront. Manakala kampak baja yang lebih kuat itu dibagikan tanpa tanpa pandang bulu dan dapat dimiliki oleh para wanita dan anak remaja, maka simbol otoritas suku itu pun pudar, sehingga otoritas itu sendiri menjadi kabur, pola hubungan menjadi kacau, dan norma kewajiban timbal-balik ikut menjadi goyah. Batu yang menjadi bahan kampak itu diambil dari daerah selatan yang jaraknya jauh sekali, kemudian diperdagangkan ke daerah utara dengan menggunakan sistem mitra dagang, yang juga memiliki adat istiadat yang sama. Dengan adanya kampak baja, pola hubungan dagang menjadi kendor sehingga adat kebiasan yang sangat bernilai itu pun akhirnya hilang. Jadi, kepunahan fatal pada kebudayaan Yir Yoront disebabkan oleh adanya inovasi kampak batu. Ilustrasi tersebut tampaknya memang dramatis, tetapi apakah dampak mobil atau radio pada kebudayaan Amerika lebih kecil artinya? Ogburn (1933), menemukan sebanyak 150 perubahan sosial yang disebabkan oleh adanya radio, sedang Pool mengumpulkan sejumlah karangan yang berkenaan dengan konsekuensi adanya telepon-mulai dari semakin kuatnya kekuatan polisi sampai dengan penataan-ulang tata kota (Pool,1997).
Ogburn menyebutkan tiga bentuk efek sosial dari invensi: 
1)      Dispersi atau efek beruntun dari sebuah invensi mekanik; misalnya banyaknya efek yang ditimbulkan oleh invensi radio atau mobil, yang mempersingkat waktu perjalanan, menunjang pabrik besar dan perusahaan industri pelayanan, menyediakan pasar bagi bensin, minyak, baja,kaca,kulit,dan barang-barang lain dalam jumlah besar, menciptakan kebutuhan akan program pembangunan jalan secara besar-besaran, mengubah pola pergaulan dan rekreasi; mendorong perkembangan daerah pinggiran kota dan pusat pertokoan, dan konsekuensi lainnya
2)      Suksesi atau efek sosial lanjutan dari sebuah invensi menciptakan perubahan, lalu perubahan tersebut menimbulkan perubahan selanjutnya. Penemu mesin pemisah kapas dari bijinya (a) menyederhanakan proses pembuatan katun dan mengakibatkan katun menjadi lebih menguntungkan. Kerbehasilan tersebut (b) mendorong penanaman pohon kapas yang lebih banyak; dan penanaman itu membutuhkan semakin banyak budak;semakin meningkatnya perbudakan dan ketergantungan wilayah bagian Selatan terhadap ekspor katun, (c)  mendorong meletusnya perang saudara, yang (d)  sangat mendorong perusahan industri berskala besar dan monopoli perdagangan; hal tersebut kemudian (e)  menunjang lahirnya undang-undang anti trust (undang-undang yang menentang penggabungan beberapa industri) dan organisasi buruh; selanjutnya rentetan perubahan tersebut masih tetap berlanjut. Meskipun rentetan perubahan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh adanya mesin pemisah kapas dari bijinya, namun penemuan mesin tersebut mendorong.
3)      Konvergensi atau munculnya beberapa pengaruh dari beberapa invensi secara bersamaan. Hal ini dapat diilustrasikan dengan berbagai cara. Pistol berpeluru enam, pagar kawat duri, dan kincir angin menunjang pemukiman dataran Amerika yang luas. Mobil, pompa listrik, dan tanki air antihama memungkinkan terbentuknya daerah pinggiran kota yang modern. Senjata nuklir, peluru interkontinental, dan sistem deteksi radar, menurut pandangan para ahli militer, telah membuat perang total menjadi ketinggalan zaman.
Efek sosial invensi telah banyak ditulis orang. Apakah suatu unsur budaya baru ditemukan di dalam suatu masyarakat atau dimasukkan dari luar masyarakat tersebut bukanlah suatu persoalan; efek sosial terhadap masyarakat itu tetap sama saja, terlepas dari kedua cara itu. Senjata api membuat semua orang sama kuatnya dan mengakhiri kehebatan perwira berkuda dan berbaju besi; meriam mengakhiri kekuatan pertahanan istana abad pertengahan dan memperkuat kekuasaan raja terhadap bangsawan daerah. Suatu unsur budaya yang dimasukkan dari luar seringkali tidak mampu dikendalikan dengan baik oleh suatu masyarakat. Misalnya, primitif yang membuat minuman keras mereka sendiri pada umumnya memiliki budaya- pengendali terhadap penggunaan minuman keras tersebut, tetapi masyarakat primitif yang menerima minuman keras dari orang kulit putih tidak memiliki budaya-pengendali semacam itu, sehingga efek minuman tersebut pada umumnya sangat mmerusak (Horton , 1943). Sebagai contoh, pada masa awal masuknya minuman keras ke dalam masyarakat suku Eskimo di pulau St. Lawrence, para anggota suku itu pun bermabuk-mabukan selama sebulan, sehingga mereka tidak sempat memanfaatkan masa perpindahan beruang laut yang terjadi setahun sekali; akibatnya, pada musim dingin selanjutnya kebanyakan suku Eskimo itu meninggal dunia karena kelaparan (Nelson,1899). Inovasi – apakah itu ditemukan, diinvensi, atau dimasukkan dari luar- berkemungkinan untuk merusak.



2.        Kadar perubahan yang tidak merata
Karena segenap aspek kebudayaan saling bertalian, maka perubahan pada salah satu aspek kebudayaan akan mempengaruhi aspek kebudayaan lainnya. Unsur budaya yang terpengaruh biasanya akan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, tetapi hal tersebut memerlukan waktu. Selang waktu (interval) antara saat datangnya perubahan dengan saat sempurnanya proses penyesuaian disebut kesenjangan budaya (cultural lag), suatu konsep yang di temukan oleh Ogburn (1922, hal.200-213). Dia mengemukakan sebuah ilustrasi bahwa pada sekitar tahun 1870 para pekerja berduyun-duyun mulai bekerja pada pabrik-pabrik, di mana mereka seringkali mengalami kecelakaan yang tidak dapat dihindari. Kenyataan yang berlangsung selama setengah abad, sebelum kebanakan negara bagian menerapkan undang-undang memberikan tunjangan kecelakaan bagi para pekerja. Keenjangan budaya pada kisah tersebut adalah sekitar 50 tahun.
Kesenjangan budaya terjadi bilamana ada aspek budaya yang tertinggal di belakang aspek budaya lainnya yang berkaitan dengan aspek budaya tadi. Barangkali wujud kesenjangan budaya yang paling tampak pada masyarakat Barat dewasa ini adalah kurangnya institusi yang dapat menompang kemajuan perubahan teknologi. Misalnya, pada kebanyakan negara bagian luas sebuah kabupaten (county) didasarkan pada jarak pulang pergi yang dapat ditempuh oleh seseorang dalam perjalanannya kepusat Kabupaten dalam sehari; terlepas dari perkembangan transportasi, luasnya unit kabupaten tetap seperti yang dahulu, sehingga kabupaten tidak mampu melaksanakan sekian banyak fungsinya secara efisien.
Beberapa kesenjangan budaya berupa ketertinggalan suatu bagian budaya material dari budaya material lainnya yang berkaitan. Selama seperempat abad setelah kuda digantikan oleh mobil, orang masih membangun garasi jauh di belakang rumah, karena dahulu kandang kuda yang berbau busuk. Dewasa ini pada beberapa negara sedang berkembang di mana mekanisasi pertanian menggantikan sistem pertanian subsistensi, pembangunan transportasi yang baik, fasilitas penyimpanan dan pemasaran tertinggal di belakang, sehingga banyak bahan pangan rusak di ladang pertanian karena tidak dapat di bawah ke pasar. Acapkali budaya material tertinggal oleh perubahan budaya nonmaterial. Misalnya, sudah sejak dahulu penelitian pendidikan menemukan bahwa alat-alat belajar yang dapat di pindahkan menunjang pengorganisasian kegiatan belajar, tetapi beribu ruang kelas masih tetap memiliki kursi yang tidak bisa  di pindahkan, terpaku pada lantai kelas. Akhirnya suatu aspek budaya nonmaterial bisa juga tertinggal di belakang aspek budaya nonmaterial lainnya yang berkaitan. tampak bahwa ketertinggalan penggunaan alat-alat pengendali kelahiran(birth cintrol) dari kemajuan pengendalian tingkat kematian telah menimbulkan ledakan penduduk, yang mungkin merupakan suatu kesenjangan budaya yang paling banyak membawa malapetaka.
Konsep kesenjangan budaya juga mencakup pengertian adanya perbedaan kadar perubahan dalam suatu masyarakat, bukanya perbedaan kadar perubahan antar masyarakat. Ini menyangkut adanya disharmoni (ke tidak selarasan) antar unsur budaya yang saling berkaitan dalamsuatu kebudayaan, yang tercipta karena adanya perbedaan kadar kecepatan perubahan. Kesenjangan budaya paling banyak terjadi pada masyarakat yang sangat cepat berubah. Semua itu bukanlah merupakan gejala yang menandakan keterbelakangan masyarakat, melaikan gejala yang menandakan masyarakat yang sangat dinamis dan semakin kompleks. Di balik itu, meskipun semua orang cukup bijaksana, objektif, dan mampu menyesuaikan diri, mereka juga memerlukan waktu untuk mempelajari penyesuaian yang di perlukan oleh suatu perubahan baru dan lebih banyak lagi untuk melaksanakan dan menyampurnakan penyesuaian itu, Namun sayang sekali kebanyakan dari kita tidak memahami masalah di luar bidang kita; kita juga di pengaruhi oleh praduga dan kepentingan sendiri, sehingga kita tidak mampu menyesuaikan diri sebagai mana yang kita harapkan. Kesenjangan budaya sangatlah banyak dan akan tetap ada.
3.        Perubahan Sosial dan Masalah Sosial
Suatu masalah sosial seringkali sebagai suatu kondisi yang tidak di senangi oleh banyak orang, sehingga mereka ingin memperbaikinya. Berdasarkan batasan ini, suatu masyarakat yang terintegrasi secara baik tidak akan menghadapi masalah sosial, karena segenap institusi dan kegiatan akan selaras dan dapat sejalan degan nilai-nilai masyarakat. Suatu masyarakat yang mengalami perubahan pasti melahirkan masalah. Hal itu terjadi karena kondisi dalam masyarakat itu sendiri mengalami perubahan sehinga tidak lagi dapat diterima (pertumbuhan penduduk, erosi lapisan tanah, dan penggundulan hutan menciptakan masalah kerusakan lingkungan) atau dapat pula karena nilai-nilai masyarakat yang telah berubah menilai kondisi lama sebagai kondisi yang tidak lagi dapat diterima (pertumbuhan penduduk, erosi lapisan tanah, dan penggundulan hutan menciptakan masalah kerusakan lingkungan) atau dapat pula karena nilai-nilai masyarakat yang telah berubah menilai kondisi lama sebagai kondisi yang tidak lagi dapat diterima (buruh anak-anak, kemiskinan, rasisme, atau perbedaan hak pria-wanita). Masalah sosial merupakan bagian dari konsekuensi perubahan sosial. Meskipun demikian, analisis yang terperinci hanya dibahas dalam buku teks dan mata pelajaran lainnya.
4.         Disorganisasi dan Demoralisasi
Teknologi modern menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sebagaimana yang disinggung pada bagian awal bab ini, sampai batas-batas tertentu semua unsur baru merusak budaya yang berlaku. Jika suatu kebudayaan yang segenap unsur dan institusinya selaras serta terintegrasi secara baik mengalami perubahan pada salah satu unsurnya, maka hal tersebut akan mengacaukan tatanan kebudayaan itu. Dewasa ini perubahan tercepat terjadi di negara-negara sedang berkembang; ketika suatu negara hampir mencapai tahap ’modernisasi. Yang utuh, maka tingkat kecepatan perubahan pun menurun (Fierabend dan Fierabend, 1972). Jadi, negara-negara sedang berkembanglah yang mengalami disorganisasi yang terparah, baik karena tingginya tingkat kecepatan perubahan maupun karena ketidak pahaman relatif mereka menyangkut proses perubahan. Modernisasi dan kemajuan melahirkan kepahiatan hidup baru yang harus menanggung akibat inflasi tanpa menikmati keuntungannya. Modernisasi mendorong lahirnya sistem stratifikasi sosial baru dan menunjang peningkatan kompetisi etnik di negara-negara berkembang. Kemajuanpun merupakan rahmat sekaligus petaka.
Manakala suatu kebudayaan mengalami disorganisasi yang sangat parah maka perasaan aman, moral, dan tujuan hidup para penduduk tidak menentu. Bila mana rakyat bingung dan tidak memiliki kepastian sehingga perilaki mereka pun tidak menentu, kabur dan saling bertentangan. Maka mereka disebut orang yang rapuh pribandinya (personally disorganized). Bilamana kerapuhan pribadi tersebut berlanjut sampai mereka kehilangan pedoman akan tujuan hidup, lalu menarik diri dai masyarakat dan bersikap apatis, maka kita meenyebut mereka sebagai orang yang tanpa semangat hidup (demoralized).mreka telah kehilangan semangat hidup dan acapkali kemampuan untuk mengandalikan perilaku mereka ikut hilang. Suatu masyarakat yang kehilangan semangat hidupnya sangat berkemungkinan untuk mengalami penurunan jumlah penduduk melalui turunnya tingkat kelahiran dan naiknya tingkat kematian, atau keduanya. Kecenderungan memunahnya masyarakat yang benar-benar telah kehilangan semangat hidup telah menarik perhatian sejumlaha ahli antropologi.
Pemusnahan bison menghilangkan semangat hidup orang indian Amerika di Great Plains. Mereka memanfaatkan bison untuk keperluan sandang, pangan, dan papan. Lebioh dari 50 bagian tubuh bison yang sudah mati dimanfaatkan oleh suku indian. Perburuan bison memungkinkan tersedianya bahan utama bagi upacara keagamaan orang indian, merupakan bagian dari penentuan tahap kedewasaan seseorang, dan merupakan wahana untuk memperoleh status dan pengakuan masyarakat. Peperangan yang juga merupakan wahana untuk memperoleh status pun tergantung pada ketersediaan daging bison yang memadai. Ketika pemerintah memusnahkan bison untuk menentramkan orang indian, upaya tersebut pun ikut melenyapkan semangat orang itu. Fungsi pesta perang dan perburuan bison yang utuh dan mampu memberikan status akhirnya hilang. Setelahj itu, upacara keagamaan menjadi hampa dan tidak bermakna lagi. Ekonomi perburuan mengalami kerusakan total, sehingga orang indian hanya dapat hidup dari bantuan pemerintah dan kadang kala mengalami kelaparan. Tujuan dan nilai-nilai tradisional yang memberi semangat hidup dan makna dalam kehidupan, tidak lagi ada. Sementaar itu, upaya menggantikannnya dengan tujuan dan nilai-nilai orang kulit putih merupakan upaya belajar yang dapat dikatakan mustahil. Dibeberapa tempat dimana orang indian berhasil menerapkan sistem ekonomi orang kulit putih juga akhirnya mengalami kegagalan, karena kerakusan orang kulit putih terhadap tanah orang indian banyak suku indian menjadi sangat lemah karena keruntuhan budaya mereka sendiri, penolakan masyarakat kulit putih, serangan penyakit orang kulit putih, dan kecanduan minuman keras. Depolulasi (kepunahan penduduk) suku indian terjadi di hampir di semua tempat, dan barulah pada abad ini jumlah penduduk masyarakat indian mulai meningkat. Peristiwa perubahan sosial yang merusak disorganisasi kebudayaan, kehancuran pribadi, dan hilangnya semangat hidupo masyarakat seperti ini, telah terjadi ratusan kali dalam sejarah peradaban manusia.    

Tuesday, April 5, 2011

PSB (Pusat Sumber Belajar)


Pusat Sumber Belajar (PSB) 
translate of (The School Library Media Program)

Pusat sumber belajar meliputi semua sumber daya dan aktivitas yang mana staf pusat sumber belajar menerjemahkan misi menjadi kenyataan. Berbagai model ada untuk program sukses. Aktivitas dan sumber daya termasuk dalam program pusat sumber belajar yang ditentukan oleh tujuan bidang pendidikan dan tujuan sekolah.
Sekolah, seperti individu, memiliki sifat unik, karena keadaan sejarah, geografi, demografis siswa, pengajaran dan gaya kepemimpinan, dan sejumlah faktor lain. Walau semua sekolah harus mempertahankan pelayanan dasar, kurikulum lokal dan regional yang tercermin dalam penekanan program. Prioritas khusus dapat berubah dari waktu ke waktu dalam sebuah sekolah tunggal, dan mereka mungkin berbeda antara sekolah, antara daerah, dan di antara sistem negara. Dalam satu sekolah, pusat sumber belajar mungkin paling kuat dibidang bimbingan membaca dan apresiasi sastra. Di sisi lain, sumber daya dan fasilitas dapat memusatkan pada kemampuan komunikasi dan produksi media. Salah Satu koleksi saya mengkhususkan diri dalam seni pertunjukan, sementara lain dapat mendukung pinjaman mainan (peralatan) atau proyek software evaluasi pendidikan. Potensi untuk mengembangakan sumber daya dan jasa terbatas. 
Semua program pusat sumber belajar yang fektif, apapun kekuatan individual mereka, berbagi tujuan umum dan prinsip-prinsip dalam memenuhi kebutuhan pengguna. Tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip menyediakan spesialis pusat sumber belajar dengan bimbingan dalam pengimplementasian program.

A.      Kontribusi Pusat Sumber Belajar untuk Proses Pendidikan
            pusat sumber belajar sepenuhnya diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah adalah pusat proses pembelajaran. Ini adalah elemen penting dalam perkembangan intelektual siswa, mempromosikan langkah pembelajaran dan menyampaikan pentingnya menggunakan dan mengevaluasi informasi dan ide-ide sepanjang hidup.
Mengembangkan kemampuan berpikir jernih, kritis, dan kreatif tergantung pada aliran informasi-baik dari langsung, persepsi langsung dan dari persepsi disaring dan dikomunikasikan melalui media, yang menggunakan bahasa dari suara, gambar, mencetak, dan gerakan. Pusat sumber belajar menyediakan program yang berlimpah, sumber belajar yang tepat dalam berbagai format. Kemampuan berpikir kritis juga dipupuk ketika siswa diberikan kesempatan untuk belajar bagaimana untuk menempatkan, menganalisis, mengevaluasi, menafsirkan, dan mengkomunikasikan informasi dan ide. Spesialis pusat sumber belajar sering menawarkan, kegiatan yang direncanakan untuk melatih siswa dan memungkinkan praktek dalam penggunaan sumber belajar dalam berbagai format.
Di PSB sekolah, guru dan siswa belajar untuk menggunakan teknologi informasi baru sebagai alat pengajaran dan pembelajaran. Fungsi spesialis PSB sebagai "perantara" sebuah informasi, membantu siswa, guru, dan orangtua belajar bagaimana mengatasi ledakan (perkembangan yang pesat) informasi dan bagaimana memanfaatkan kemungkinan informasi dunia yang luar biasa kaya.
Sebuah PSB yang komprehensif menawarkan siswa dan guru berbagai alternatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan alternatif bahan yang tepat, proses, dan tempat, dapat disesuaikan dengan gaya belajar individu dan kemampuan.
Program ini memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan individu siswa dan pembangunan. Konsep diri dan harga diri yang meningkat ketika siswa, bekerja secara mandiri atau dalam kelompok kecil, menggunakan sumber daya informasi dan teknologi telah berhasil untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sumber daya ini memberikan fleksibilitas yang diperlukan untuk membantu meningkatkan kreativitas dan membantu siswa menemukan dan mengatasi tantangan. Selain itu, sumber daya yang tersedia memberikan kontribusi terhadap siswa pembangunan seni dan budaya.
Dengan berbagai bahan ajar, laboratorium menjadi pusat informasi, memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan menggunakan informasi. PSB menyediakan sebuah "pasar ide" yang benar, di mana pengguna menemukan tantangan intelektual ketika mereka mengevaluasi dan mencerna ide-ide. Melalui program ini, siswa menjadi akrab dengan lingkungan dan jasa seorang agen informasi modern, menyiapkan mereka untuk menggunakan perpustakaan dan agen-agen informasi lainnya sepanjang hidup mereka.



B.       Pengoperasian Pusat Sumber Belajar
Setiap PSB terdiri dari dua komponen utama, terdiri dari kegiatan yang direncanakan dan layanan yang membantu siswa dan staf dalam berinteraksi dengan sumber daya untuk memfasilitasi belajar dan mengajar. Yang lain mencakup informasi, tenaga, peralatan, dan ruang, sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan dan pelayanan.

1.        Kegiatan dan layanan pendukung pengajaran dan pembelajaran
           Dalam PSB, siswa dan guru terlibat dalam banyak kegiatan belajar yang berbeda. Istilah pusat sumber belajar sekolah memunculkan gambar dari: siswa sangat gemar membaca-di meja atau tergeletak nyaman di "reading corner"(ruangan); siswa menggunakan berbagai sumber informasi, baik buku atau layanan informasi terkomputerisasi, lingkaran anak-anak muda menikmati membaca cerita dramatis, atau sekelompok mahasiswa bekerja sama dengan spesialis media perpustakaan dalam memproduksi sebuah presentasi video.
Sebuah gambaran lengkap dari sebuah Pusat sumber belajar adalah satu di mana semua kegiatan-dan lebih-terjadi. Pusat sumber belajar meliputi berbagi ide dan cerita melalui bercerita, slide dan produksi video, dan presentasi dramatis. Semua usia siswa menggunakaan peralatan modern dan kamera video sederhana untuk membuat gambar visual untuk menyampaikan informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Siswa mengajari siswa yang lain dan berunding dengan guru atau spesialis media perpustakaan saat mereka bekerja di tengah proyek pembelajaran tersebut. Guru, spesialis media perpustakaan sekolah, dan siswa mendorong satu sama lain untuk mengeksplorasi bahan-bahan baru dan mencoba berbagai sumber informasi.
Para anggota staf PSB memberikan instruksi dalam menggunakan bahan dan peralatan melalui presentasi formal yang memperkenalkan bahan baru atau mengajarkan keahlian akses khusus seperti pencarian elektronik. Instruksi formal kurang terjadi saat siswa meminta bantuan dari spesialis PSB atau menawarkan bantuan ketika membutuhkan bantuan yang diamati. Pada komputer pribadi, siswa menggunakan program tutorial serta pengolahan kata dan perangkat lunak grafis.
Spesialis pusat sumber belajar mengadakan rapat perencanaan tetap dengan guru individual dan tim pengajar. Bekerja bersama-sama, mereka merancang unit instruksional dan mengidentifikasi potensi sumberdaya untuk pembelian. perencanaan kurikulum, desain kegiatan pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar yang diproduksi secara lokal terjadi secara berkelanjutan.
Spesialis PSB terus menerus terlibat dalam berbagai "perantara" kegiatan untuk memastikan bahwa pengguna dapat memperoleh akses intelektual serta akses fisik ke informasi yang mereka butuhkan. Sebagai penghubung utama antara pengguna dan informasi, spesialis PSB menyediakan berbagai jenis dan tingkat bantuan.
Semua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran individu dan kelompok. Mereka memberikan motivasi, praktek, dan peluang yang diperlukan untuk mendorong penelitian bebas dan belajar secara mandiri. Dan mungkin yang paling penting dari semua, mereka dilaksanakan dalam suasana yang mendorong pengguna untuk merasa senang tentang informasi dan ide-ide dan kompeten dalam penggunaannya.

2.        Sumber daya dan Ruang yang Dibutuhkan untuk Mendukung Belajar dan Mengajar
   pembelajaran dan pengajaran yang efektif mendiktekan bahwa sumber daya informasi dan ruang khusus harus cukup dan tersedia. Pusat sumber belajar memerlukan ruang yang dirancang untuk menampung kegiatan belajar, untuk bahan dan tampilan, dan untuk menyediakan distribusi dan penyampaian informasi dan sumber belajar untuk semua bagian dari gedung sekolah. Spesialis PSB bekerjaan baik untuk memastikan bahwa sumber belajar dapat digunakan di seluruh gedung dan untuk menciptakan ruang yang mendorong penggunaannya.
            Pusat Pusat sumber belajar sendiri menarik siswa dan diatur sehingga banyak kegiatan yang dapat terjadi secara simultan. Di pusat sumber belajar, beberapa siswa mencari tempat yang tenang untuk belajar sendiri. Yang lain lebih memilih untuk bekerja sama, menggunakan ruang rapat untuk diskusi kelompok kecil atau praktek untuk debat. Pusat sumber belajar  memiliki ruang mengajar yang berdekatan sehingga instruksi formal dapat diberikan kepada siswa di lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran yang efektif. Guru memanfaatkan area yang disetting untuk mereka belajar, untuk mempersiapkan dan mereproduksi materi pengajaran, atau untuk mengadakan pertemuan atau konferensi. area produksi Media memungkinkan siswa dan guru untuk mengembangkan film, membuat kaset audio, membuat produksi video, dan melihat video atau film.
            Siswa memiliki akses yang mudah ke semua media. Sebuah area yang terbuka sekitar bookstacks, bahan-bahan audiovisual, majalah saat ini, menampilkan paperback, dan counter referensi  membuat area ini memungkinkan dikunjungi bagi siswa yang secara fisik memiliki gangguan untuk mencari bahan. Menampilkan dan bahan promosi mendorong siswa untuk mengeksplorasi sumber-sumber informasi baru dan menemukan bahan untuk membaca kurikuler dan rekreasi, melihat, dan mendengarkan.
            Pengguna memiliki akses ke berbagai macam dan berbagai sumber informasi di pusat sumber belajar, seluruh sekolah, dan seterusnya. jaringan komputer menyediakan akses ke sumber daya informasi nasional dan bahkan di seluruh dunia. Koleksi pusat sumber belajar berisi koleksi umum dan khusus dari banyak cetakan yang digunakan dan sumber daya non cetak. Selain menekankan bahan yang khusus berkaitan dengan berbagai mata pelajaran sekolah, sebuah koleksi rumahan juga merupakan  bahan yang memberikan kesempatan untuk mengejar kepentingan individu.
            Informasi tersedia melalui banyak format, termasuk buku dan majalah, microforms, perangkat lunak komputer, film, dan video, database CD-ROM, dan lainnya. Akses ke informasi ini diberikan melalui indeks cetak dan komputerisasi, katalog, dan program bantuan pencarian. Alat bantu penyelidikan, dalam hubungannya dengan bantuan pribadi dari spesialis PSB, menyediakan akses intelektual yang nyaman dan efektif untuk dunia sumber informasi. Pedoman khusus untuk sumber daya dan peralatan yang dibutuhkan untuk pusat sumber belajar yang efektif yang menjelaskan dalam bab 5; mereka untuk kebutuhan fisik dan spasial pusat media perpustakaan sekolah termasuk dalam bab 6.

C.      Kemitraan untuk kesuksesan pusat sumber belajar
            Keefektifan pusat sumber belajar tergantung pada kolaborasi dari semua pihak yang bertanggung jawab untuk pembelajaran siswa. Koordinasi dari pengembangan kurikulum dan implementasi dengan sumber daya atau pusat sumber belajar dan penerapan prinsip-prinsip akses informasi pada onsep kurikulum memberikan dasar untuk program-progam yang efektif. Akibatnya, semua anggota komunitas pendidikan, termasuk guru, kepala sekolah, siswa dan spesialis media perpustakaan, menjadi mitra dalam tujuan bersama yang menyediakan pengalaman belajar untuk kesuksesan semua siswa.

1.      Kepala Sekolah
Kepala sekolah bekerja dibawah pengawasan kabupaten, merupakan pemimpin utama pembelajaran di sekolah. Ia harus mengetahui pembelajaran yang berbasis sumberdaya dan pentingnya pusat sumber belajar. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan harapan untuk pusat sumber belajar kepada seluruh staf dan untuk memastikan bahwa spesialis media perpustakaan sekolah befungsi sebagai anggota tim mengajar. Bekerja sama dengan guru dan spesialis media perpustakaan sekolah untuk menetapkan tujuan yang jelas dan memberikan metode evalusi kemajuan, kepala sekolah dapat memfasilitasi integrasi penuh dari pusat sumber belajar ke dalam kurikulum.
Sebagai pemimpin administrasi pembangunan, kepala sekolah memastikan bahwa pusat sumber belajar memiliki sumber daya yang memadai untuk melaksanakan misi dan memberikan bantuan administrasi yang diperlukan untuk memungkinkan spesialis PSB untuk melayani dalam peran yang profesional. Kepala sekolah juga mendukung peran bahwa dengan struktur penggunaan PSB fleksibel dan memungkinkan waktu untuk perencanaan dan kerja kurikulum. Selain itu, kepala sekolah mendukung kegiatan intern bahwa guru membantu memahami penggunaan sumber informasi yang bervariasi dan bagaimana teknologi baru berkontribusi untuk meningkatkan pembelajaran. Kepala sekolah mendorong pengembangan hubungan dengan lembaga masyarakat lainnya sehingga guru menggunakan sumber daya dan materi dalam masyarakat, maupun yang dari pusat media perpustakaan sekolah, dalam penataan kegiatan belajar bagi siswa mereka.

2.      Guru
Dalam program pembelajaran berbasis sumber daya, guru mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan mengembangkan unit belajar untuk mereka. Pengembangan ini mencakup pemilihan berbagai strategi pengajaran, penggunaan bahan-bahan sumber daya yang tepat, dan evaluasi prestasi siswa. Guru kelas bekerja dengan spesialis PSB, yang juga seorang guru, untuk memastikan penggunaan yang efektif dari semua format yang sesuai bahan ajar dalam pengalaman belajar siswa. Selain itu, guru kelas bekerja kooperatif dengan staf perpustakaan media untuk mendorong dan membantu siswa dalam produksi media. Bagian dari peran guru dalam menggunakan informasi dan sumber daya instruksional sebagai dasar untuk belajar mencakup pengembangan kooperatif dan pengajaran keterampilan informasi kurikulum. Guru kelas dan spesialis media perpustakaan bekerja sama dalam mengembangkan keterampilan untuk pembelajaran, termasuk penghargaan dan menikmati semua jenis media komunikasi.

3.        Siswa
adalah mitra dalam proses belajar-tidak kurang dari kepala sekolah, guru, dan spesialis media perpustkaan dan dengan demikian, siswa harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara teratur dalam perencanaan untuk kegiatan pusat sumber belajar. Siswa dapat melayani di dewan penasihat dan membantu dalam perencanaan, evaluasi, dan media promosi layanan PSB. Bila mungkin, siswa harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pemilihan dan evaluasi bahan, dalam pengembangan kebijakan untuk penggunaan pusat PSB sekolah dan bahan, dan dalam penciptaan kegiatan baru yang akan melayani kebutuhan belajar.

E.       Perpustakaan Media spesialis
Sebagai mitra dalam proses pembelajaran, spesialis pusat sumber belajar menyediakan hubungan manusia yang dibutuhkan antara program pengembangan media perpustakaan media dan pengguna yang dilayani oleh program dengan baik. Dengan demikian, mereka menerjemahkan tujuan yang disajikan dalam laporan misi ke dalam kehidupan, pengalaman belajar yang inspiratif. Spesialis PSB membawa ke komunitas ahli pengetahuan sekolah tentang dunia informasi dan ide-ide dalam segala bentuknya. Ketiga peran spesialis media perpustakaan-spesialis informasi, guru, dan konsultan-instruksional dijelaskan secara rinci dalam Bab 3.





 
 

Pola Asuh Orang Tua


A.      Pola Asuh Orang Tua
Sebelum membahas mengenai konsep pola asuh orang tua, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai makna dari keluarga. Sebab, pola asuh orang tua terjadi dalam lingkup pendidikan keluarga.Lingkungan keluarga merupakan “pusat pendidikan” yang pertama dan terpenting, karena sejak timbulnya adab kemanusiaan, keluarga selalu mempengaruhi pertumbuhan budi pekerti tiap – tiap manusia (Dewantara, dalam Shochib,1998:100).
Selanjutnya Gerungan (1996:180) mengemukakan bahwa keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompok. Di dalam keluarga, individu pertama – pertama belajar memperhatikan keinginan – keinginan orang lain, belajar bekerjasama, belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial yang memiliki norma – norma dan percakapan – percakapan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain.
Pengalaman berinteraksi anak dalam keluarga akan menentukan pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat. Berdasarkan pernyataan diatas dapat dilihat bahwa ada pengaruh orang tua terhadap perkembangan kepribadian anak, dimana pengaruh tersebut dapat diwujudkan melalui ucapan – ucapan, perintah yang harus dikerjakan anak, dukungan dan larangan terhadap hal – hal yang dilakukan anak, hukuman dan ancaman terhadap perilaku yang tidak boleh dilakukan anak, dan selanjutnya akan menjadi model yang akan dicontoh, kemudian diresapi, untuk selanjutnya akan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sosialnya.
Schaefer (1991:7) mengemukakan bahwa tujuan utama mengasuh anak adalah mempunyai tanggung jawab mensosialisasikan anak yang mengarah pada perkembangan pribadi dan moral anak. Mengasuh anak merupakan usaha keras untuk membentuk anak berkepribadian seperti harapan orang tuanya pada umumnya.Bagi orang tua, mengasuh anak merupakan proses yang kompleks sebab banyak hal yang harus diperhatikan. Hal yang berkaitan dengan model dan cara orang tua mengasuh anaknya antara lain pemberian kasih sayang, penanaman rasa disiplin, pemberian hadiah, pemberian hukuman, pemberian teladan, penanaman sikap dan moral, perlakuan yang adil, pembuatan peraturan serta kecakapan mengatur anak. Secara keseluruhan rincian tersebut termasuk dalam rangkaian suatu pola tertentu, dalam hal ini adalah pola asuh orang tua.
Menurut Hidayah,dkk (1994:20) Pola asuh orang tua adalah suatu “parental attitude” dimana orang tua memperlakukan anaknya dalam komunikasi sehari – sehari dalam mengasuh dan memelihara anak, baik ayah, ibu maupun keduanya.Dalam mengasuh anak khususnya remaja, orang tua harus memperhatikan bagaimana dalam memberikan perhatian dan kasih sayang, pemberian reward dan punishment pada perilaku anak serta penanaman sikap dan moral kepada anak.

            Berdasarkan beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah cara mendidik dan membimbing orang tua kepada anaknya yang mengarah kepada pengembangan pribadi dan menentukan perilaku bagi anak dalam suatu keluarga.

B.       Jenis Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua menurut Lippit dan White (dalam Fauzan,1991) dikategorikan menjadi tiga macam yaitu otoriter, demokratis, dan permisif.
1.      Pola Asuh Otoriter
Menurut Lippit dan White (dalam Fauzan,1991) pola otoriter disini orang tua menentukan segala kegiatan anaknya secara paksa. Orang tua menentukan kegiatannya dan anak hanya diberi instruksi langkah – langkah yang paling  dekat, tanpa diberikan kebebasan untuk menentukan kegiatannya sendiri.
Menurut Hurlock (dalam Hidayah,dkk 1994:21) Penerapan pola asuh otoriter akan menimbulkan percekcokan karena orang tua berharap dirinya lebih mengambil peran dalam kehidupan anaknya.Keputusan atas segala sesuatu ditentukan oleh orang tua, sehingga anak akan cenderung mendapatkan hukuman fisik bila menentang orang tua. Sementara remaja yang mendapatkan pola asuh ini, bila kecenderungan emosional kuat, maka berakibat adanya perselelisihan dalam keluarga, meyebabkan perilaku agresi muncul sebagai bentuk perlawanannya.
Dalam pola asuh ini orang tua mengontrol semua aktivitas anak dengan ketat, membuat standar yang harus dituruti oleh anak serta orang tua tidak memberikan kebebasan anak untuk melakukan hal yang diinginkan, sehingga jika anak melanggar peraturan orang tua maka sanksi hukuman fisik maupun verbal akan diterima anak. Selain itu juga tidak memberikan pujian (reward) atas perilaku yang telah dilakukan, meskipun perilaku tersebut dilakukan sesuai dengan kehendak dari orang tua mereka.Anak dalam pengasuhan ini merasa terkekang, menyebabkan perkembangan anak mengalami kemunduran, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, ragu – ragu dalam bertindak dan lamban berinisiatif.
Berdasarkan uraian diatas bahwa dalam keluarga otoriter, perkembangan anak semata – mata ditentukan orang tua. Disini orang tua cenderung menguasai anak. Anak tinggal patuh saja pada orang tua, seolah – olah orang tua berdiri didepan dan anak beridiri di belakang mengikuti semua kehendak orang tua.Sehingga akan membentuk anak yang memiliki sifat suka menyendiri, mengalami kemunduran kematangan, mudah putus asa, kecemasan dan ragu – ragu dalam mengambil keputusan.
2.      Pola Asuh Demokratis
            Anak yang dibesarkan dalam pola asuh demokratis akan mempunyai rasa percaya diri yang baik, bertanggung jawab dan dapat menghargai orang lain. Anak disini diberi kebebasan untuk memilih dengan disertai bimbingan yang penuh kasih sayang dan pengertian dari orang tua (Hurlock, dalam Hidayah,1994:21).
            Menurut Lippit dan White (dalam Fauzan,1991) pola asuh demokratis disini orang tua sebagai pemimpin keluarga mengajak anaknya menentukan tujuan serta merencanakan langkah – langkah. Orang tua memberi bantuan nasehat dan memberikan saran – saran kepada anak mengenai macam kemungkinan yang dapat mereka pilih sendiri mana yang terbaik.
            Berdasarkan uraian diatas bahwa keluarga demokratis, orang tua tidak bersikap “maha kuasa” dan orang tua tidak bersifat “tak berkuasa sama sekali” terhadap perkembangan anak.Perkembangan anak tidak dibiarkan begitu saja tanpa kontrol orang tua, tetapi anak juga tidak menerus diatur sehingga sama sekali tidak mendapatkan kebebasan dalam bertingkah laku dan berinisiatif.Orang tua dalam keluarga ini bersikap di depan memberi contoh, ditengah memberikan motivasi dan di belakang memberikan dorongan. Orang tua dalam keluarga demokratis memiliki tanggung jawab dan dapat dipercaya.
3.      Pola Asuh Permisif
Menurut Lippit dan White (dalam Fauzan,1991) istilah pola asuh permisif ini adalah orang tua menjalankan peranan yang pasif, menyerahkan penentuan tujuan dan kegiatan seluruhnya kepada anak dengan memenuhi segala kebutuhan, tanpa mengambil inisiatif apapun dan orang tua hanya bertindak sebagai penonton. Pola asuh permisif ini diberi istilah juga dengan rejection atau penolakan, dimana orang tua memperlakukan anak dengan sifat yang keras, penuh kebencian, tanpa kasih sayang dan selalu menentang kemauan anaknya.
Sedangkan pendapat dari Hurlock (dalam Hidayah,1994) orang tua dalam pola asuh permisif menunjukan kontrol yang kurang, orang tua bersikap longgar atau bebas, bimbingan terhadap anak kurang dan semua keputusan lebih banyak dibuat oleh anak daripada orang tuanya. Pola asuh ini orang tua menjalankan peranan yang pasif, menyerahkan penentuan tujuan dan kegiatan seluruhnya kepada anak dengan memenuhi segala  kebutuhan.
Berdasarkan uraian diatas bahwa keluarga permisif, orang tua membiarkan anak berkembang secara bebas. Anak merupakan pusat dari segalanya, sedangkan orang tua sekedar mengikuti dari belakang. Anak dibiarakan bebas untuk melakukan segala hal yang disukainya. Orang tua hanya mengikuti apa yang dilakukan anak, sehingga anak kurang mempunyai rasa hormat pada orang tua.

C.      Faktor – faktor yang mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua
Berdasarkan artikel online Lentera Kehidupan (2010, akses www.beranda.blogspot.com), faktor – faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua sebagai berikut.
1.        Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor pembentuk kepribadian. Lingkungan dengan kondisi yang ramai, panas dan bersesakan akan memudahkan timbulnya perilaku yang cenderung negatif. Keluarga yang tinggal dalam lingkungan ini, cenderung akan bersifat lebih keras daripada lingkungan yang bersuasana tenang. Dalam hal ini, pola asuh orang tua akan terpengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya.


2.        Faktor Turun – temurun
Sebagian orang tua mewarisi pola asuh yang didapatkan dari orang tuanya. Seorang bapak atau ibu sebagai orang tua menerapkan pola asuh orang tua sesuai dengan pengasuhan yang dialaminya sejak kecil. Tidak semua pengasuhan dari orang tuanya dahulu diterapkan dalam pola asuh, tetapi orang akan menerapkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.