A. Konsep kecerdasan dan kecerdasan interpersonal
Menurut Santrock (dalam Septiana 2008: 32) kecerdasan merupakan keterampilan berfikir dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah serta beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Kecerdasan tidak dapat diukur secara langsung, namun dapat dipelajari dengan membandinngkan tindakan kecerdasan yang ditunjukkan oleh orang lain. Ada sembilan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia meliputi kecerdasan yang berkenaan dengan kemampuan seseorang dalam bahasa yakni mendengar, menulis, berbicara dan membaca (Linguistic verbal), kecerdasan yang berhubungan dengan kekritisan dalam berfikir, data-data grafik serta suka bermain dengan strategi (Logical Mathematical), kecerdasan yang terkait dengan presentasi, gambar, performance dan video (Visual Spatial), kecerdasan ritmik yang sangat berkaitan erat dengan musik (Musical Rythmic), kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan bergerak, termasuk olah raga, performance dan menari (Bodily kinesthetic).
Kecerdasan selanjutnya yakni kecerdasan yang sangat berkaitan dengan kehidupan sosial seperti persahabatan, sosialisasi dengan orang lain dan sangat suka bekerja sama dengan orang lain atau bekerja secara kelompok (Interpersonal), kecerdasan yang terkait dengan nilai-nilai dan norma yang ada di masyarakat, terakhir adalah kecerdasan yang lebih berkaitan dengan alam seperti dunia tumbuhan, hewan, cuaca dan bebatuan (Naturalist). Kecerdasan interpersonal memungkinkan bagi individu untuk membangun kedekatan, pengaruh, ikatan, dan berinteraksi dengan masyarakat. Kecerdasan interpersonal berguna untuk memotivasi orang lain dan mengenal serta menghargai orang lain sebagai bagian dari dirinya, berempati dengan orang lain serta mampu bekerjasama dengan orang lain dalam satu kelompok.
Gardner (dalam Astuti,2009:14) menjelaskan “ kecerdasan ini dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan aesara khusus, perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi dan kehendak, kecerdasan ini memungkinkan seseorang yang membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan ketika keinginan itu disembunyikan. “ Kecerdasan interpersonal mencakup kemampuan membaca orang (misalnya menilai orang), kemampuan berteman dan keterampilan untuk membina hubungan dan bekerja sama dengan orang lain.
Safira (dalam Asatuti 2009:14) menjelaskan kecerdasan interpersonal atau juga bisa dikatakan sebagai kecerdasan sosial, diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada pada situasi menang-menang atau saling menguntungkan.
Dua tokoh dari psikologi intelegensi yang secara tegas menegaskan adanya sebuah kecerdasan interpersonal ini adalah Thorndike dengan menyebutkan sebagai kecerdasan sosial dan Howard Gardner yang menyebutnya sebagai kecerdasan interpersonal. Baik kata sosial ataupun interpersonal hanya istilah penyebutannya saja, namun kedua kata tersebut menjelaskan hal yang sama yaitu kemampuan untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan suatu hubungan antar pribadi (sosial) yang sehat dan saling menguntungkan.
Menurut teorinya, kecerdasan sosial ini mempunyai tiga dimensi utama, sebagai berikut:
a. Sosial sensitivity
Merupakan kemampuan untuk mampu merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukannya baik secara verbal maupun non verbal. Seseorang yang memiliki sensitivitas sosial yang tinggi akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari orang lain, entah reaksi tersebut positif ataupun negative. Sosial sensitivity ini meliputi sikap empati dan sikap prososial.
1) Sikap empati
Empati merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Kunci untuk memahami perasaan orang lain adalah mampu membaca pesan non verbal, seperti nada bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah dan sebagainya. Seseorang yang memiliki kemampuan ini akan lebih pandai menyesuaikan diri, lebih mudah bergaul dan lebih peka.
Empati mempunyai dua komponen kognitif dan satu komponen afektif. Dua komponen kognitif itu adalah kemampuan mengidentifikasi dan melabelkan perasaan orang lain. Komponen yang kedua adalah kemampuan mengasumsikan perspektif orang lain. Satu komponen afektif yaitu kemampuan dalam keresponsifa emosi.
2) Sikap prososial
Perilaku prososial adalah istilah yang digunakan oleh para ahli psikologi untuk menjelaskan sebuah tindakan moral yang harus dilakukan secara cultural seperti berbagi, membantu seseorang yang membutuhkan, bekerja sama dengan orang lain dan mengungkapkan simpati. Perilaku ini menuntut control diri untuk menahan diri dari rasa rela menolong atau berbagi dengan orang lain.
b. Sosial insight
Merupakan kemampuan untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam suatu interaksi sosial, sehingga masalah-masalah tersebut tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah dibangun. Dalam hal ini, pemecahan masalah yang ditawarkan adalah pendekatan menang-menang atau win-win solution. Di dalamnya terdapat juga kemampuan seseorang dalam memahami situasi sosial dan etika sosial sehingga anak mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut. fondasi dasar dari sosial insight adalah berkembangnya kesadaran diri secara baik.dengan kesadarn diri seseoarang akan memahami keadaan dirinya, baik keadaan internal maupun eksternal.
1) Kesadaran diri
Kesadaran diri ini juga terkandung dalam kecerdasan intrapersonal yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan kesadaran diri ini seseorang akan lebih mampu mengenali perubahan emosi-emosi, sehingga akan lebih mampu mengendalikan emosi-emosi tersebut dengan terlebih dahulu menyadarinya.
2) Pemahaman situasi sosial dan etika sosial
Diperlukan pemahaman terhadap nrma-norma sosial yang berlaku untuk sukses dalam membina dan mempertahankan sebuah hubungan. Di dalamnya terdapat ajaran yang membimbing seseorang betingkah laku yang benar dalam situasi sosial, karena itu diperlukan moral. Ajaran moral mengacu pada ajaran-ajaran, patokan-patokan atau kumpulan peraturan, baik lisan maupun tulisan, tentang bagaimana seseorang harus hidup dan berperilaku agar menjadi manusia yang baik. Kata moral berarti sesuatu yang mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari dimensi baik buruknya sebagai manusia. Dalam bersosialisasi seseorang harus memahami kaidah moral ini. Ada perbuatan yang harus dilakukan dan ada pula perbuatan yang tidak boleh dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari persoalan aturan selalu berakaitan dengan situasi. Setiap situasi menuntut aturannya sendiri. Inilah yang dinamakan sebagai etika, yaitu kaidah sosial yang mengatur perilaku mana yang harus dilakukan dan perilaku mana yang dilarang untuk dilakukan. Pada akhirnya seseorang akan mengerti bagaimana harus menyesuaikan perilakunya dalam situasi sosial.
3) Keterampilan pemecahan masalah
Setiap orang membutuhkan keterampilan untuk memecahkan masalah secara efektif. Semakin tinggi kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah, maka akan semakin positif hasil yang akan didapatkannya dari penyelesaian konflik tersebut.
Konflik terjadi ketika ada dua kepentingan yang berbeda muncul dalam satu hubungan interpersonal. Secara garis besar ada dua macam strategi di dalam memecahkan suatu konflik, yaitu strategi kompetisi dan strategi kolaborasi. Dua strategi ini berbeda satu dengan yang lainnya dan tentu saja menghasilkan dampak yang berbeda pula. Strategi kompetensi manipulasi, ceorcorn (paksaan) dan kekerasan hanya menghasilkan keuntungan jangka pendek, sedangkan secara jangka panjang akan mengorbankan hubungan, kerjasama dan kebersamaan.sedangkan strategi kolaborasi melibatkan kerjasama antara kedua belah pihak untuk sama-sama mendiskusikan permasalahannya dan mencari pemecahan yang menguntungkan kedua belah pihak. Strategi kolaborasi dalam memecahkan suatu konflik menekankan tercapainya solusi menang-menang (win-win solution). Strategi kolaborasi dalam memecahkan konflik antara lain melalui cara negosiasi, mediasi dan fasilitasi.
c. Sosial communication
Sosial communication atau biasa disebut penguasaan keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Dalam proses menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi sosial, maka seseorang membutuhkan sarananya. Melalui proses komunikasi yang mencakup baik komunikasi verbal, non verbal, maupun komunikasi melalui penampilan fisik. Keterampilan komunikasi yang harus dikuasai adalah keterampilan mendengarkan efektif, keterampilan berbicara efektif, keterampilan public speaking dan keterampilan menulis secara efektif.
1) Komunikasi efektif
Komunikasi dapat diartikan sebagai sebuah proses penyampaian informasi, pengertian dan pemahaman antara pengirim dan penerima. Di dalam komunikasi terdapat unsur-unsur utama yaitu komunikator (sender), komunikan (receiver), informasi atau pesan, media atau umpan balik. Informasi dapat berupa bahasa atau symbol yang disampaikan melalui media seperti tertulis atau tidak tertulis atau melalui gambar-gambar.umpan balik berguna bagi pengirim untuk mengetahui apakah informasi yang disampaikan bisa dimengerti oleh penerima, sehingga persamaan persepsi bisa tercapai.
Komunikasi merupakan sarana yang paling penting dalam kehidupan manusia. Dengan komunikasi seseorang bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya. Karena itu komunikasi merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menginginkannya kesuksesan dalam hidupnya.
2) Mendengarkan efektif
Keterampilan mendengarkan sangat penting untuk dimiliki tiap orang, karena keterampilan ini akan menunjang proses komunikasi seseorang dengan orang lain. Sebab orang lain akan merasa dihargai dan diperhatikan ketika mereka merasa didengarkan. Sebuah hubungan komunikasi tidak akan berlangsung baik jika salah satu pihak tidak mengacuhkan apa yang diungkapkan. Mendengarkan membutuhkan perhatian dan sikap empati, sehingga orang merasa dimengerti dan dihargai.
Petter Salovey (dalam Hoerr,2007:6) menjelaskan kecerdasan interpersonal terdiri dari dua komponen yaitu:
Ø Mengenali emosi orang lain
Merupakan kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain. Hal ini disebut juga dengan empati. Orang yang memiliki empati cenderung mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. Kemampuan ini dibangun atas kesadaran sendiri, yang meliputi bahwa orang lain juga mempunyai kepentingan seperti halnya diri sendiri.
Ø Membina hubungan
Keterampilan berhubungan dengan orang lain merupakan kecapakan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan sesama. Goleman berpendapat (1998:167) seseorang yang terampil dalam kecerdasan sosial dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cukup lancer, peka membaca reaksi dan perasaan meraka, mampu memimpin dan mengorganisir dan pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan sosial juga mengalami kesulitan secara akademis.
Berikut ini dijelaskan karakteristik seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi.
· Mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif
· Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara total
· Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif sehingga tidak musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin mendalam
· Mampu menyadari komunikasi verbal maupun non verbal yang dimunculkan oleh orang lain
· Mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan pendekatan win-win solution, serta yang paling penting adalah mencegah munculnya masalah dalam relasi sosialnya.
· Memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif
Dalam konteks kecerdasan interpersonal, seseorang membangun relasi dengan apa yang ada diluar dirinya, yaitu individu-individu lain sehingga kecerdasan ini memungkinkan bagi dirinya untuk memiliki ikatan dan interaksi dengan manusia lain, bahkan mampu menjaga hubungan-hubungan sosial. Kecerdasan interpersonal berguna untuk memotivasi orang lain serta mengenal dan menghargai orang lain sebagai bagian dari dirinya, mempengaruhi orang lain, berempati terhadap orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain dalam satu kelompok. Kecerdasan interpersonal ditampakkan pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktifitas sosial serta ketaknyamanan atau keengganan dalam kesendirian dan menyendiri. Orang denga kecerdasan interpersonal menyukai dan menikmati bekerja secara kelompok, belajar sambil berinteraksi dan bekerja sama, juga sering merasa senang bertindak sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan dan pertikaian bak di sekolah maupun di rumah.
B. Ciri-ciri yang berkaitan dengan kecerdasan interpersonal
Menurut Gardner (dalam Septiana 2008: 35) orang dengan kecerdasan interpersonal memiliki citra diri yang baik, dapat mengenali perasaan pribadi, tujuan, kekuatan dan kelemahan, serta dalam keadaan yang menyenangkan, menggunakan citra diri tersebut untuk membuat keputusan yang baik dalam hidupnya.
Berbeda dengan Gardner, Widayati & Widijati (dalam Septiana 2008: 35) mengemukakan pendapat yang lebih operasional mengenai ciri berkaitan dengan kecerdasan interpersonal antara lain mempunyai banyak teman, banyak bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal, tampak sangat mengenal lingkungan, dan menikmati permainan kelompok, berempati besar terhadap perasaan orang lain, mempunyai bakat menjadi pemimpin, memiiki kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun non verbal, mampu menyusuaikandiri dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda, mampu bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok, mampu melihat sudut pandang orang lain yang berbeda, menciptakan dan mempertahankan sinergi, menyukai permainan yang melibatkan orang lain, mempunyai dua atau lebih teman dekat, banyak disukai teman dan dapat memahami maksud orang lain meskipun tersembunyi, memiliki empati yang baik atau memberi perhatian kepada orang lain.
C. Lima dimensi kunci dalam kecerdasan interpersonal
Karl Albrecht 2005 (dalam Yodhia Antariksa: 2009) mengungkapkan ada Lima Dimensi Kunci dalam Kecerdasan Sosial yang disingkat menjadi kata SPACE diantaranya yaitu:
1. Situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain.
2. Presense (atau kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang dibentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan yang memiliki kualitas presentase yang baik dan mana yang buruk.
3. Authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa memperluas hubungan dengan kerabat dengan baik.
4. Clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Kadang kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara baik sehingga rekan kita tidak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan indah manakala kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan.
5. Empathy (empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful jika saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.
Orang-orang yang terampil dalam kecerdasan sosial dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cukup lancar, peka membaca reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisir dan pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia. Mereka adalah pemimpin-pemimpin alamiah, orang yang mampu menyarakan persaan kolektif serta merumuskannya dengan jelas sebagai panduan bagi kelompok untuk meraih sasaran. Mereka adalah jenis orang yang disuakai oleh sekitarnya karena secara emosional mereka menyenangkan, mereka membuat orang lain merasa tentram, dan menimbulkan komentar: “menyenangkan sekali bergaul dengannya”.
Kemampuan dasar yang digunakan dalam pergaulan antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari adalah:
1. Mengorganisir Kelompok
Keterampilan esensial dari seorang pemimpin, ini menyangkut memprakarsai dan mengkoordinasi upaya menggerakkan orang. Keterampilan ini merupakan bakat yang terdapat pada sutradara atau produser sandiwara, perwira militer, dan ketua-ketua yang efektif dalam organisasi dan segala macam unit. Ditempat bermain, bakat ini dimiliki anak yang mengambil keputusan apa yang akan dimainkan oleh setiap anggota atau yang menjadi ketua regu.
2. Merundingkan Pemecahan
Bakat seorang mediator yang mencegah konflik atau menyelesaikan konflik-konflik yang meletup. Orang yang mempunyai kemampuan ini, hebat dalam mencapai kesepakatan dalam mengatasi atau menangani perbantahan, mereka cakap dalam bidang diplomasi, arbitrasi atau hukum atau sebagai perantara atau manajer operasi. Mereka ini adalah anak-anak yang mendamainkan perbantahan di tempat bermain.
3. Hubungan Pribadi
Empati dan bakat menjalin hubungan. Bakat ini memudahkan untuk masuk kedalam lingkup pergaulan atau untuk mengenali dan merespons dengan tepat akan perasaan dan keprihatinan orang lain, seni menjalin hubungan. Orang semacam ini merupakan pemain tim yang bagus, pasangan hidup yang diandalkan, sahabat atau rekan usaha yang setia, didunia bisnis mereka sukses sebagai tenaga penjual atau para manajer atau dapat menjadi guru yang hebat. Bakat ini pada anak-anak yang dapat bergaul praktis dengan siapa saja, mudah memasuki ruang lingkup permainan, dan senang hati melakukannya. Anak-anak ini cenderung paling pintar membaca emosi dari ungkapan wajah dan paling di sukai oleh teman-teman sekelasnya.
4. Analisi Sosial
Mampu mendeteksi dan mempunyai pemahaman tentang perasaan, motif, dan keprihatinan orang lain. Pemahaman akan bagaimana perasaan orang lain ini dapat membawa ke suatu keintiman yang menyenangkan atau perasaan kebersamaan. Dalam bentuk yang terbaik, kemampuan ini dapat membuat seseorang menjadi ahli terapi atau konselor yang kompeten atau bila digabungkan dengan bakat sastra akan menjadi dramawan atau penulis novel yang berbakat.
D. Hasil penelitian
1. Penelitian dari Nila Zaimatus Septiana mengungkapkan bahwa permainan dapat digunakan oleh guru TK dalam menstimulasi kecerdasan interpersonalnya. Hal ini diperkuat oleh penilaian dari para ahli terkait dengan aspek kegunaan produk. Rerata untuk aspek kegunaan menunjukkan nilai 3,33 yang berarti paket permainan ini sangat berguna dalam menstimulasi kecerdasan interpersonal anak TK. Penilaian dari calon pengguna produk, nilai rerata 4 yang berarti buku paket permainan sangat berguna sebagai media bimbingan bagi guru TK untuk menstimulasi kecerdasan interpersonal
2. Sebuah penelitian laboratorium dengan lebih dari 100 subyek yang dilakukan di awal tahun 2009 di University of California dengan kondisi, oleh Bruce M. McLaren dan Richard Mayer. Mahasiswa belajar untuk memecahkan masalah kimia stoikiometri dengan tutor stoikiometri melalui petunjuk dan umpan balik, baik sopan atau langsung, seperti dijelaskan di atas. Ada pola dimana siswa dengan pengetahuan yang rendah kimia dilakukan lebih baik pada tes pemecahan masalah berikutnya jika mereka belajar dari tutor sopan daripada guru langsung (d = 0,73 pada tes langsung, d = 0,46 pada tertunda test), sedangkan siswa dengan pengetahuan sebelumnya tinggi menunjukkan tren terbalik (d = 49 untuk tes segera -.; d = 13 untuk tes tertunda) . Di sisi lain, studi sekolah tinggi, juga menjalankan pada awal tahun 2009 dengan lebih dari 100 subyek, menghasilkan hasil yang berbeda. Secara khusus, para siswa SMA tidak menunjukkan pola di mana siswa dengan pengetahuan yang rendah kimia dilakukan lebih baik pada tes berikutnya. Kami masih menganalisis fitur audio studi, yaitu perbandingan hasil audio petunjuk teks dan pesan, namun awal menunjukkan bahwa menambahkan audio melukai kinerja peserta didik pengetahuan tinggi dan membantu peserta didik pengetahuan rendah pada tes tertunda.
No comments:
Post a Comment